4.10.09
Lagu yang bikin gue nangis..
TELEPON
Handphonenya berdering. Cukup panjang untuk dapat membangunkannya dari tidur siangnya yang sunyi. Setengah matanya yang kantuk berat terbuka mencari-cari benda yang dengan laknat telah membuyarkan mimpinya.
Dering itu mendadak berhenti, mungkin yang menelepon jengah menunggu. Ia berdecak kesal dan mencoba menuntaskan mimpi yang tertunda. Namun hanya sedetik kesempatannya, sebab dering itu kembali berbunyi. Kantuknya hilang berganti marah, dan sekejap berganti kejut saat melihat nama yang terpampang di layar handphonenya yang berkedap-kedip. Nama yang begitu melekat dalam ingatannya, namun begitu ingin dilupakannya. Baginya sekarang waktu membeku sekaligus melebur bersama kerinduan yang tak pernah surut. Ia sadar jantungnya berdetak terlalu cepat sampai-sampai membuatnya sesak. Tubuhnya menegang. Ia tahu hanya satu penyebabnya. Hanya satu orang yang mampu membuatnya seperti itu.
Tangannya gemetar menekan tombol terima.
“Halo,” getir ia menjawab. Hening.
“Halo,” suara di seberang menjawab.
Ia menggigit bibir. Bingung mau berucap apa. Hatinya yang telah sekian lama ditata agar tak terlihat hancur, kini kembali berantakan.
“Tumben nelpon. Ada apa?” ia mencoba menyembunyikan pahit.
“Cuma nanyain kabar. Baik-baik aja, kan?” suara di seberang menyahut. Samar ia merasakan pahit yang dirinya sendiri rasakan dari suara itu.
“Iya, baik. Kamu sendiri gimana? Kok tidak pernah ngasih kabar?”
“Nanti ada yang marah sama kamu,”
Ia terkesiap. Sadar bahwa ia tak bisa mengelak dari kenyataan, sekaligus kecewa.
“Enggak kok. Saya selalu nungguin kabar kamu, tapi tidak pernah ada. Saya pikir kamu sudah lupa sama saya,” ujarnya pelan-pelan, hati-hati. Ia mengatur napasnya dengan seksama supaya tidak ada yang mengalir turun dari kedua matanya.
“Tidak. Mana mungkin saya lupa sama kamu,”
Sejuk ia rasakan saat mendengar kata-kata itu terucap. ‘Saya rindu kamu,’ ujarnya dalam hati.
“Kok diam? Lagi sibuk, ya? Ya, sudah. Kapan-kapan saja saya telepon,” suara di seberang berkata, bingung dengan hening yang dirasa tidak wajar.
“Ah, tidak. Maaf, saya melamun. Saya baru bangun tidur. Mungkin nyawa saya belum sepenuhnya terkumpul,” sahutnya buru-buru, takut kehilangan kesempatan yang mungkin tidak akan pernah dimilikinya lagi.
“Saya yang bikin kamu bangun, ya? Maaf sudah mengganggu. Ya, mungkin saya tidak tepat waktu menelepon kamu. Lain waktu saja kita ngobrol lagi. Makasih, ya”
Telepon itu terputus. Yang menelepon sudah menutupnya. Ia memejamkan mata kuat-kuat, berharap telepon tadi hanya mimpi yang terlalu nyata sampai-sampai ia mengigau. Namun ia sadar hal itu terlalu nyata untuk sekedar menjadi mimpi. Sedetik kemudian tangis itu meledak sudah. Sebab tak terdengar lagi olehnya suara yang begitu dirindukannya, suara yang begitu dicintainya, suara yang begitu ditunggunya setiap hari.
Darahnya berdesir. Dunianya sekali lagi berguncang hebat meruntuhkan dinding-dinding pertahanan yang disusunnya selama ini dari segenap harga diri dan sakit hati. Baginya, lebih baik nama itu tak pernah lagi muncul. Sebab, sebentar saja nama itu terlintas, hatinya akan hancur mungkin selamanya. Mencoba bertahan pun percuma. Ia tak tahu lagi apa yang harus dipertahankan. Hatinya terlanjur memilih. Hatinya terlanjur dimiliki. Kendati ada seorang lain yang mencoba mengisi, tak akan pernah sama lagi.
Sejak dulu tak pernah ada padanya, pikiran untuk segera melupakan. Hanya keinginan tanpa usaha. Yang ada padanya, segenap rasa yang terbentang tiada berujung dan berdasar. Yang ada padanya, cinta yang memberi dan terus memberi. Bedanya, bila dulu hal itu nyata dan mempunyai wujud, kini hal itu hanya menjadi utopis yang tak bermakna.
Dan telepon tadi membolak balik segala yang dijaganya. Membuatnya jumpalitan, menghilangkan gravitasi yang dimilikinya sehingga hilang padanya kemampuan menjejak bumi.
“Saya rindu kamu,” ujarnya, lebih kepada dirinya sendiri. Mencoba menghibur diri, atau mungkin mengasihani diri.
Detik demi detik dirasakannya hening. Ia merasa terjebak dalam lansekap gurun waktu yang mahaluas. Yang membuatnya berputar-putar, berlarian mengejar oase yang ternyata sebuah fatamorgana. Ketika jauh tampak nyata, setelah didekati ternyata hanya bayangan. Dalam hati ia merutuki segala kelemahannya, menyalah-nyalahkan dirinya sendiri yang tidak waspada menjaga hatinya sehingga ketika jatuh, benar-benar jatuhlah ia dan menggila dalam cinta. Padahal dari awal pun, ia sadar sungguh sepenuh akal sehatnya bahwa ia, sekeras apa pun ia mencoba segala cara, tidak akan pernah bisa seutuhnya memiliki.
Ia lelah menangis. Sambil sesenggukan, dihapusnya air mata yang berderai itu. Dibenamkannya kepalanya pada bantal, matanya dipejamkan erat-erat, bibirnya digigit sekuat tenaga, supaya tak lagi ada padanya rasa ingin menangis. Dicobanya untuk tegar. Telepon tadi menyadarkan separuh dari dirinya bahwa mereka telah saling memaafkan, mungkin juga merelakan. Mungkin juga, sebentar lagi mereka akan saling meninggalkan. Dirinya telah selangkah mendahului walau hatinya enggan mengakui.
Lama ia mematung. Meredam segala perasaan yang sempat meluap. Sadar baginya semuanya berjalan salah kaprah. Semuanya terasa tumpang tindih. Semuanya salah penempatan. Tidak adil bagi dirinya, sebab ia tahu cinta itu masih dan akan selalu ada di antara mereka, namun entah apa saja yang menjadikannya tak bisa bersatu. Mungkin harga diri yang sama-sama terlalu tinggi, mungkin karena ia sendiri kini telah orang lain miliki. Maka dengan segenap kekuatan yang tersisa, dirapikannya perasaan itu, dikemasnya rasa rindu dan sayang yang besar itu, dilipatnya hati-hati agar muat dimasukkan ke sebuah kotak pandora untuk kemudian dimasukkan dan dikunci rapat-rapat dalam hati agar tidak lagi menyakiti. Tak lagi ditolehkan hatinya ke belakang.
Ia berjalan maju walaupun menyeret masa lalu.
Rasa bersalah menggerogoti. Diingatnya seorang nyata yang kini siap menemaninya setiap detik. Ditariknya napas untuk menenangkan diri. Kemudian diambil olehnya handphone yang kini tergeletak bisu. Ditekannya nomor yang begitu dihapalnya tanpa membuka buku telepon.
Bunyi nada sambung.
“Halo,” ada suara di seberang menyahut dengan rindu.
“Halo, aku kangen,” ujarnya.
Depok, 27 September 2009
Harusnya kamu jangan telepon saya lagi
BERTAHAN
Sudah setahun berlalu sejak hilang dari Saya jejak hadir Kamu. Mungkin rasa ini juga telah pupus oleh waktu. Rindu Saya bisu, sebab tak mau Saya jadikan pilu. Saya relakan sendu pergi berlalu, sebelum Saya tersadar pahit Saya semakin biru.
Bukankah akan selalu ada perpisahan sehabis pertemuan?
Saya mencoba untuk terus bertahan. Pikiran Saya tak lagi lugu walau orang-orang masih anggap Saya bocah ingusan. Sakit hati di masa lalu telah memberi Saya luka. Maka Saya belajar menerima dan tidak lagi meminta, daripada kelak Saya harus kembali menelan pahit yang memberi hampa.
Dan Saya yakin, Saya hanya perlu mengamini, apa yang Saya dapat adalah yang Saya butuh, bukan yang Saya mau.
Kamu mungkin berpikir Saya tak layak untuk Kamu. Namun beginilah Saya adanya. Tak ada yang perlu ditambah atau pun dikurangi dari Saya. Bila Kamu tak bisa menerima, Saya paham itu. Kamu terbiasa dengan yang sempurna dan yang nyaris sempurna mungkin, sementara Saya tidak sama sekali. Saya jauh dari sempurna. Bahkan mungkin lebih dekat dengan tidak sempurna. Bila Kamu tidak bisa menerima, Saya, sekali lagi, paham itu. Saya terbiasa menerima dan hidup dalam ketidaksempurnaan. Karena itulah Kamu sempurna bagi Saya.
Ketika Kamu pergi, Saya tak mampu menangisi. Yang Saya mengerti, Kamu pergi bukan karena rasa sudah tidak ada lagi. Namun entah, Kamu pergi mungkin karena Kamu memang ingin dan harus pergi. Sebab sia-sia bagi Kamu bila tetap bersama Saya jalan beriring. Dan sudah seharusnya begini. Sebelum Kamu dan Saya mabuk tidak sadarkan diri. Pesta harus usai.
Terlalu banyak kemungkinan. Dan peluangnya hanya satuperdua. Tidak ada frekuensi harapan karena kesempatan mencoba hanya sekali seumur hidup.
Saya mencoba lari. Dan lari. Lari dan lari dan lari sampai Saya merasa jantung Saya sebentar lagi berhenti. Tapi Kamu tetap tidak terkejar. Saya merasa diri Saya berlari di tempat. Capeknya sama. Tapi tidak mengurangi jarak. Saya hampir putus asa. Kamu dan Saya sudah beda dunia. Kamu berpijak di atas bumi yang tidak sama dengan Saya. Dan Saya hanya bisa menunggu .
Maka sekarang Saya diam saja. Tetap di tempat. Saya siapkan perangkap. Supaya Kamu terjerat. Saya tertawa ketika Kamu dengan mudahnya melompati perangkap Saya itu. Hahaha. Ternyata Saya memang bodoh. Bodoh sekali. Sangat bodoh. Saya terpuruk. Sekali lagi, hahaha.
Saya renungkan. Bila bertemu, suatu saat pasti akan berpisah. Maka Saya hanya bisa merelakan. Bila memang waktu berjalan ke depan, saya akan ikut saja. Tidak akan Saya coba untuk mundur ke belakang melawan.
Kamu bilang pada Saya, supaya tidak melupakan. Tapi Kamu begitu saja berjalan meninggalkan. Adilkah bagi Saya? Saya hanya mencoba bertahan.
Sudah setahun berlalu sejak hilang dari Saya jejak hadir Kamu. Mungkin rasa ini juga telah pupus oleh waktu. Rindu Saya bisu, sebab tak mau Saya jadikan pilu. Saya relakan sendu pergi berlalu, sebelum Saya tersadar pahit Saya semakin biru.
Jakarta, 28 September 2009
untuk Kamu yang membuat Saya biru
9.9.09
the VERONICAS - Untouched
I go ooh ooh, you go ah ah
lalalalalalalala
I can't lie lie lie lie lie lie
I wanna wanna wanna get get get what I want
Don't stop
Give me give me give me what you got got
Cause I can't wait wait wait any more more more more
Don't even talk about the consequence
Cause right now you're the only thing that's making any sense to me
And I don't give a damn what they say, what they think think
Cause you're the only one who's on my mind
I'll never ever let you leave me
I'll try to stop time for ever, never wanna hear you say goodbye (bye bye bye)
I feel so untouched
And I want you so much
That I just can't resist you
It's not enough to say that I miss you
I feel so untouched right now
Need you so much somehow
I can't forget you
Been going crazy from the moment I met you
Untouched
And I need you so much
See you, breathe you, I want to be you
Alalalala alalalala
You can take take take take take time time
To live live the way you gotta gotta live your life
Give me give me give me all of you you
Don't be scared
I'll see you through the loneliness of one more more more
Don't even think about what's right or wrong, wrong or right
'Cause in the end it's only you and me and no one else is gonna be around
To answer all the questions left behind
And you and I are meant to be so even if the world falls down today
You've still got me to hold you up up
And I will never let you down (down)
I feel so untouched
And I want you so much
That I just can't resist you
It's not enough to say that I miss you
I feel so untouched right now
Need you so much somehow
I can't forget you
Been going crazy from the moment I met you
Untouched, untouched, untouched, untouched, untouched
Alalalala alalalala
Untouched
Alalalala alalalala
I feel so untouched
And I want you so much
That I just can't resist you
It's not enough to say that I miss you
I feel so untouched right now
Need you so much somehow
I can't forget you
Been going crazy from the moment I met you
I feel so untouched
And I want you so much
That I just can't resist you
It's not enough to say that I miss you
I feel so untouched right now
Need you so much somehow
I can't forget you
Been going crazy from the moment I met you
Untouched, untouched, untouched
7.9.09
Happy Birthday, Albert :)
Hey you
I know I'm in the wrong
Time flies
When you're having fun
You wake up
Another year is gone
You're twenty
I guess you wanna know
Why I'm on the phone
It's been a day or so
I know it's kinda late
But happy birthday
Yeah yeah whoa oh
I know you hate me
Yeah yeah whoa oh
Well I miss you too
Yeah yeah I know
I know it's kinda late
But happy birthday
So hard
When you're far away
It's lame but I forgot the date
I won't make the same mistake
I'm so to blame
Now you know
Don't hang up the phone
I wish I was at home
I know it's way too late
But happy birthday
Yeah yeah whoa oh
I know you hate me
Yeah yeah whoa oh
Well I miss you too
Yeah yeah I know
I know it's kinda late
But happy birthday
It's not that I don't care
You know I'll make it up to you
If I could I'd be there
Yeah yeah whoa oh
Yeah yeah whoa oh
Well I miss you too
Yeah yeah I know
I know it's kinda late
But happy birthday
Yeah yeah whoa oh
I know you hate me
Yeah yeah whoa oh
Well I miss you too
Yeah yeah I know
I know it's kinda late
But happy birthday
To you